Saturday, 31 May 2014

An Inspirational-Emotinal Day

Suatu sore, aku pergi keliling ke Komplek Dirgantara-1, salah satu dari 10 Kompleks Perumahan TNI-AU di wilayah Halim Perdanakusuma. Tujuanku kesana adalah untuk sekedar membeli jus di sebuah warung bakso bernama "Bakso Solcap".

Ketika aku sudah memesan jus yang hendak kubeli, tiba tiba datang seorang bapak tua, yang dari logatnya, menurutku mungkin berasal dari wilayah Jawa barat, Rupanya dia seorang penjual serbet

"serbet..serbet, serbet dari bahan empuk, buat lap, bersih-bersih'' katanya denga suara parau

Tiba-tiba aku langsung terenyuh, "Ah mana jusnya udah dibuat lagi, segala uang ngepas lah" aku membatin dengan agak kecewa. "coba belum dibuat, kan bisa dikurangin mesen jusnya, terus bisa bantu bapak ini" kataku dalam hati,

"Serbet.. serbet, serbetnya bu" katanya lagi, namun tak satu pun orang menghiraukan. Aku pun semakin tidak enak hati. Mendadak aku teringat akan roti yang aku beli dari ''Alfamart'' sebelum menuju warung bakso ini, tanpa pikir panjang langsung aku tawarkan kepada bapak ini. Rupanya beliau sangat senang

"Terima kasih, nak" katanya dengan suara bergetar seraya memasukkan roti itu ke tasnya yang berisi kumpulan serbet

"Sama-sama, pak" jawabku

Tak lama, seorang penjaga warung berkata "masuk pak, ini ada bakso"

"Hah?" kataku terkejut, begitu pun dengan penjual serbet tsb. Beliau pun masuk dan duduk menimati bakso yang ditawarkan.

Tampak beliau begitu gembira, kemudian ditaruhnya tas berisi serbet yang tampak berat itu di sebelahnya dan ia memijat pundaknya yang, pastinya, pegal itu karena menahan beban berat untuk waktu lama. Kemudian beliau mulai menyantap makanannya.

Ketika membayar jus pesananku yang sudah selesai dibuat, aku bertanya pada si penjual, "ini ga apa-apa mas? ga ditanya yang empunya nanti, baksonya rugi semangkok?"

"Ya kalau ditanya, ya udahlah mas" katanya "tinggal potong upah saya aja" lanjutnya sambil cengar-cengir.

"Luar biasa" batinku sambil terheran-heran

Aku pun kemudian berpamitan pada bapak itu dan si penjual bakso, lalu pulang. Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan kejadian itu, sampai harus ditulis di sini, pagi ini.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian sore itu.

1. Jika seorang yang sudah renta saja tetap memilih bekerja utk memenuhi kebutuhan hidup, kenapa banyak orang yang lebih memilih mengemis?

2. Jika seorang yang sudah renta saja mampu memikul beban dagangan yang sangat berat, sambil berjalan kaki utk menawarkannya, Kenapa kita para pemuda malah bermalas-malasan?

3. Jika orang yang upahnya, katakanlah pas-pasan saja, mampu menolong orang yang membutuhkan, kenapa kita yang mendapat upah diatas UMP malah apatis dan anti-sosial?

4. Jika kita masih mampu makan, minimal, 3x sehari dan naik kendaraan untuk bepergian kemanapun, jangan pernah berpikir kalau kita punya masalah superberat. Apalagi cuma masalah cinta-cintaan atau galau belaka.

5. Di atas langt memang masih ada langit, tapi di bawah rumput masih ada tanah.

6. Terakhir, rasa bersalah karena kita tidak mampu menolong orang yang membutuhkan dengan maksimal adalah salah satu perasaan paling tidak menyenangkan sedunia.

So guys, have you been a useful and helpful person yet?